Usul Mikul adalah sebuah frasa yang terdengar gagah dan berjiwa ksatria. Secara harfiah berarti “yang mengusulkan, dialah yang memikul” (mengeksekusi). Ini adalah mantra yang harusnya menginspirasi kita untuk berpikir tidak hanya dalam tahap “ide”, tetapi juga dalam tahap “realitas”.
Opini ini menginspirasi karena Usul Mikul adalah obat penawar bagi ‘idealisme tanpa keringat’. Sehingga dapat menghapus frasa ‘Wacana Aja.’
Bukan Wacana Aja
Ia memaksa kita untuk mengusulkan ide yang pragmatis dan terukur, bukan sekadar “wacana” di sebuah organisasi atau komunitas. Sebelum lidah berucap, otak kita harus sudah memvisualisasikan medan perang, sumber daya yang dibutuhkan, dan keringat yang akan tumpah.
Jika kita menjadi pemilik usulan sejati, usulan yang keluar adalah usulan yang telah melewati simulasi mental terberat, simulasi eksekusi oleh diri sendiri. Kualitas ide meningkat drastis, karena pembuatnya tahu mereka sendiri yang akan menanggung cacatnya.
Selain itu, prinsip ini juga menjadi inti dari kepemimpinan sejati. Bukan sekadar menunjuk, tetapi memimpin dari depan. Ide brilian menjadi tak berarti jika hanya dilempar ke meja orang lain. Usul Mikul menuntut kita untuk menjadi arsitek, kuli, sekaligus mandor dari mahakarya kita sendiri.
Sisi Gelap dan Menggelitik
Namun, di sinilah letak hal yang menggelitik di dalamnya, di mana realitas organisasional berbenturan dengan idealitas individu.
Sisi gelap Usul Mikul adalah potensi membunuh ide sebelum ia lahir. Jika setiap ide harus langsung “dipikul” oleh pengusul, siapa yang berani mengusulkan inovasi berisiko tinggi atau proyek lintas-divisi yang masif?
Kebanyakan orang akan cenderung mengusulkan hal-hal yang kecil, aman, dan mudah dilakukan sendiri. Ini bisa menjadi palu godam bagi kreativitas dan kolaborasi.
Dalam organisasi modern, ada peran: si pemikir, si perencana, si eksekutor. Seseorang mungkin jenius dalam merancang sistem, tapi kacau balau dalam pelaksanaannya.
Memaksa si perancang untuk “memikul” eksekusi bisa menghasilkan pekerjaan yang tidak optimal. Bisa saja akan lebih efektif, jika ide brilian-nya dieksekusi oleh tim yang spesialis di bidangnya.
Kita bisa membayangkan seseorang individu yang memiliki ide-ide cemerlang setiap minggu. Dengan prinsip Usul Mikul, ia akan cepat terjebak dalam tumpukan eksekusi tanpa pernah sempat melahirkan ide-ide baru. Sistem ini berisiko menciptakan ‘superman’ yang kelelahan daripada tim yang berdaya.
Usul Mikul adalah prinsip yang kuat, memotivasi, dan menghukum. Ia mengajarkan kita bahwa integritas ide hanya teruji di lapangan.
Usul Mikul, Tanggung Jawab
Namun, agar tidak menjadi tirani yang mencekik kreativitas, kita harus menafsirkannya secara modern, yakni, Usul Mikul Tanggung Jawab.
Artinya, yang mengusulkan harus memikul tanggung jawab untuk mengawal ide, menjamin sumber daya, dan memastikan eksekusi berjalan, bahkan jika ia mendelegasikan tugas fisik. Ia adalah CEO dari idenya, bukan selalu pekerja fisik tunggalnya.
Pedang Mata Dua
Dalam sebuah organisasi Usul Mikul bisa saja menjadi hal yang kompleks, bertindak layaknya pedang bermata dua. Ia dapat mendorong inovasi yang bertanggung jawab sekaligus berpotensi melumpuhkan sistem kolaboratif jika diterapkan secara kaku.
Usul Mikul tidak seharusnya menjadi aturan yang mutlak, melainkan prinsip budaya dan mindset. Prinsip ini akan berjalan baik di organisasi yang lincah (agile), kecil hingga menengah, atau untuk proyek-proyek intrapreneurship (inovasi internal) yang sifatnya terbatas.
Prinsip ini akan menimbulkan masalah di organisasi besar, hierarkis, dan sangat tersentralisasi, di mana peran dan spesialisasi sudah terdefinisikan secara ketat.
Vs Kebutuhan Spesialisasi
Menyeimbangkan prinsip Usul Mikul dengan kebutuhan spesialisasi adalah hal yang sangat krusial, terutama dalam organisasi seperti Gerakan Pramuka yang mengedepankan pendidikan karakter, leadership, dan kolaborasi.
Di Gerakan Pramuka, prinsip ini harus diterjemahkan menjadi “Kepemimpinan Proyek Berbasis Ide” (Project Leadership Based on Idea), bukan “eksekusi manual oleh satu orang.”
Usul Mikul berfungsi sebagai sarana pendidikan leadership dan akuntabilitas, sementara spesialisasi adalah alat yang digunakan untuk mencapai eksekusi yang berkualitas di bawah arahan Pemimpin Proyek (pengusul ide).
Mengikat dengan Kode Kehormatan
Prinsip Dasa Darma Pramuka secara inheren mendukung Usul Mikul yang bertanggung jawab dan kompeten. Dasa Darma ke-10: Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan : mendorong agar ide (pikiran dan perkataan) diusulkan dengan kejujuran dan realistis, serta dilaksanakan (perbuatan) dengan integritas.
Dasa Darma ke-8: Rajin, terampil, dan gembira : menekankan bahwa pengusul harus menjadi individu yang terampil, sehingga saat memimpin eksekusi (Mikul), ia tahu betul standar kerja yang harus dicapai.
Dasa Darma ke-5: Rela menolong dan tabah : menegaskan bahwa ketika Mikul menemui kesulitan, jiwa spesialisasi (rela menolong sesama) harus diaktifkan untuk membantu eksekutor lain.
Peran Pembina Pramuka
Dalam Pramuka, Pembina memiliki peran penting dalam memastikan Usul Mikul tidak menjadi beban, tetapi menjadi pembelajaran. Pembina dapat menjembatani jika ide seorang Siaga brilian tetapi membutuhkan keahlian (misalnya membuat poster digital), Pembina dapat menjembatani pengusul ke anggota Penggalang/Penegak.
Fokus pada Proses, Bukan Hasil. Pembina mendorong pengusul untuk membuat perencanaan yang matang dan mengatur tim (Memikul Tanggung Jawab) daripada hanya mengevaluasi hasil eksekusi.
Ini melatih kemampuan manajerial, Setiap usulan dieksekusi sebagai proyek. Pengusul menjadi Pemimpin Proyek (Pratama/Pradana), dan anggota lain menjadi Tim Pelaksana yang bekerja sesuai spesialisasi mereka.
