Pernahkah kamu berdiri di depan seorang tukang parkir yang sedang semangat meniup peluit, atau melihat seorang barista yang menatap biji kopi seolah sedang berdiskusi tentang masa depan bangsa?

Seringkali kita terjebak dalam kasta imajiner tentang “kesibukan” atau aktivitas. Kita merasa orang yang mengetik cepat di depan laptop MacBook adalah sosok yang sedang “membangun peradaban”, sementara ibu-ibu yang sedang tekun memilah cabai di pasar hanya dianggap sedang “mengisi waktu”.

Padahal, di mata semesta, setiap gerakan, setiap aksi, setiap kegiatan yang dilakukan, adalah sebuah ritme yang menjaga dunia tetap berputar.

Kasta Kesibukan yang Keliru

Kita hidup di zaman di mana “kelelahan” sering dijadikan medali kehormatan. Jika tidak rapat sampai jam 9 malam, kita dianggap kurang berkontribusi.

Cobalah kita untuk jujur, apakah laporan Excel yang dibuat benar-benar lebih krusial daripada tukang sampah yang memastikan lingkungan kita tidak berubah menjadi tempat pembuangan akhir dalam semalam?

Menghormati aktivitas orang lain bukan berarti kita harus membungkuk 90 derajat setiap kali bertemu orang di jalan. Menghormati berarti berhenti meremehkan.

Seoranh Tukang Ojek, dia bukan sekadar pengantar penumpang, dia adalah “penyambung napas” bagi mereka yang hampir terlambat rapat penting. Pembersih Jalan adalah “kurator estetika kota” yang bekerja saat kita masih memeluk guling.

Sementara Admin Media Sosial bukan cuma tukang main HP, dia adalah “juru bicara digital” yang menjaga reputasi sebuah nama di belantara internet yang kejam.

Investasi Harga Diri

Saat kita memandang aktivitas orang lain sebagai sebuah “penghormatan”, sebenarnya kita sedang menghormati diri sendiri. Mengapa? Karena dunia ini adalah ekosistem.

Bayangkan saja jika semua orang tiba-tiba ingin menjadi CEO dan tidak ada lagi yang mau menjadi teknisi pipa air. Kita akan duduk di kursi kulit mewah, memakai jas mahal, tapi sambil merenung meratapi air toilet yang mampet.

Setiap pekerjaan, sekecil apa pun di mata statistik ekonomi, adalah bentuk martabat. Tidak ada pekerjaan yang rendah, yang ada hanyalah sikap rendah saat memandang sebuah pekerjaan.

Ibadah Kecil

Tentu, Bagaimana cara mengubah pandangan ini menjadi aksi nyata yang menggelitik? kita bisa melakukan beberapa hal sederhana untuk untuk siapapun, misalnya menyapa nama adalah sebuah pengakuan bahwa mereka adalah manusia dengan identitas, bukan sekadar alat pembantu aktivitas kita.

Kemudian selalu ucapkan Terima Kasih, sampaikan yang spesifik, Misalnya “Terima kasih, Pak, kopinya pas banget buat saya yang lagi ngantuk ini.” Rasakan bagaimana binar matanya berubah.

Jangan sekali-kali kita Memotong Arus. Apabila kita melihat seseorang sedang konsentrasi melakukan sesuatu (meski itu hanya menyapu daun kering), jangan interupsi dengan kasar. Kita wajib memberikan ruang, seolah mereka sedang mengerjakan proyek jutaan dolar.

Semua orang pasti akan punya “panggung” masing-masing. Jika kita bisa menghargai panggung orang lain, maka panggung kita pun akan terasa lebih bermakna.

Jadi, apa pun yang kita lakukan hari ini, apakah itu menandatangani kontrak besar atau sekadar memastikan kucing tetangga tidak masuk rumah, lakukanlah dengan bangga, hormati apa yang orang lain lakukan.

Dunia tidak butuh lebih banyak orang sukses yang sombong. Dunia ini butuh lebih banyak orang yang saling menghargai aktivitas satu sama lain.

Categorized in:

Catatan,