Jalan sehat di sekolah Fahri, anak ketiga saya, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80 berlangsung meriah. Bersama ratusan siswa lainnya dan juga para guru, semua bersuka ria mengikuti jalan sehat dengan rute sekitar sekolah.

Detik-Detik yang Tak Terduga

Di tengah kerumunan teman-temannya, Fahri berdiri dengan raut wajah yang tenang, meski jemarinya sesekali meremas potongan kupon undian yang sudah mulai lecek. Tapi, pembawaannya memang sedikit cuek, tapi sebenarnya dia pemikir.

Bagi kami, keikutsertaan Fahri dalam jalan sehat ini sudah cukup untuk melatih fisik dan memupuk rasa nasionalismenya sejak dini. Ya, seperti pada umumnya.

Namun, semesta nampaknya punya rencana lain. Saat nomor undian dibacakan oleh pembawa acara melalui pengeras suara, suasana mendadak hening sekejap, sebelum akhirnya pecah oleh gemuruh tepuk tangan.

“….. atas nama Fahri Kelas VII A1” begitu kira-kira diumumkan.

Fahri sempat terpaku. Langkahnya ragu saat diminta maju ke panggung. Di sana, sebuah Sepeda Gunung mengkilap dengan pita merah putih sudah menanti pemilik barunya.

Lebih dari Sekadar Sepeda

Kata Fahri, itu menjadi salah satu momen istimewanya saat di awal menjadi murid baru dengan seragam putih biru. Tentu saja penuh binar kebahagiaan. Ia sempat berteriak kecil.

Saat itu, saya dan istri siap menjemput ke sekolah. Fahri hanya bilang diminta masuk saja ke halaman sekolah, belum menyampaikan jika mendapatkan sebuah sepeda. Alhamdulillah.

Tentu saja, ini merupakan kejutan bagi kami. Sebuah sepeda yang memang sedang ia tunggu-tunggu, tiba-tiba muncul dari kegiatan jalan sehat yang ia ikuti.

Petualangan Baru

Bagi Fahri, sepeda gunung ini adalah awal dari petualangan baru. Sebagai orang tua, kami berharap, hadiah ini dapat memotivasi dirinya untuk lebih aktif bergerak dan mandiri.

Senyum Fahri saat mencoba mengayuh sepeda pertamanya ini menjadi kado terindah bagi kami di momen tujuh belasan tahun 2025.