Kadang kita merasa dalam situasi di mana seseorang baru bicara dua kalimat, tapi isi kepala kita sudah merumuskan sejuta solusi? Atau mungkin, saat melihat sebuah kasus viral di media sosial, jari kita sudah gatal ingin mengetik ulasan, opini, komentar, sebelum benar-benar paham duduk perkaranya?

Saat ini, kita hidup di era yang menuntut kecepatan. Namun, dalam urusan pemecahan masalah dan pendalaman informasi, kecepatan seringkali menjadi musuh ketelitian.

Ada satu prinsip sederhana yang selalu saya pegang sebelum menarik kesimpulan (meski susah juga diterapkan) adalah “Dengarkan ceritanya aja dulu.”

Menyimak: Kosongkan Gelas, Buka Telinga

Hal pertama bukan membaca data, melainkan mendengar cerita. Saat kita melakukan pendalaman informasi, kita harus membiarkan subjek atau data berbicara sepenuhnya tanpa interupsi ego kita.

Dalam kondisi itu, kita perlu menghapus bias, melupakan dulu apa yang kita anggap benar. Kemudian menangkap emosi dan konteks yang kadang, fakta tersuratnya tidak sekuat emosi yang tersirat. Kita perlu benar-benar melihat, apa yang membuat masalah ini muncul? Apa latar belakangnya?

Dalam tahap ini, tugas kita hanya satu, yaitu menjadi saksi atas cerita tersebut. Jangan terburu-buru menghakimi, jangan terburu-buru memberi label. (ah… ini seringnya masih sebatas teori bagi saya)

Mencari Simpul-Simpul Masalah

Setelah semua cerita terkumpul, barulah kita mengeluarkan “pisau bedah” sebagai salah satu senjata yang bisa diandalkan.

Di sinilah proses intelektual dimulai. Cerita yang panjang lebar tadi biasanya memiliki simpul-simpul atau juga titik-titik krusial di mana masalah sebenarnya bertumpuk.

Kadang, cara saya menemukan simpul itu dengan bertanya:

“Di bagian mana alurnya mulai macet?”

“Siapa saja aktor yang terlibat dan apa kepentingannya?”

“Apakah ada pola yang berulang dari kejadian-kejadian sebelumnya?”

Nah, simpul-simpul inilah yang harus kita urai satu per satu. Menurut saya, tanpa menemukan simpulnya, saran yang akan kita berikan atau sampaikan hanyalah menjadi plester di atas luka yang infeksi.

Memberi Solusi yang Menapak Bumi

Pilihan katanya agak susah dicerna kah? Menapak Bumi. Jangan-jangan bisa dikira hantu kalau tidak menapak di bumi kan?

Jadi, setelah simpul ditemukan dan dianalisis, barulah kita masuk ke tahap akhir, yaitu Rekomendasi. Saran yang baik bukan hanya soal “apa yang idealnya terjadi”, tapi “apa yang paling mungkin dilakukan”.

Setidaknya, dari berbagai catatan, tekomendasi yang kuat harus memiliki tiga elemen, yaitu Aplikatif, Solutif, dan Empatis.

Maksudnya Aplikatif adalah bisa dikerjakan, bukan sekadar teori awang-awang. Solutif, benar-benar menjawab simpul masalah yang tadi ditemukan. Sedangkan Empatis adalah tetap berpijak pada “cerita” awal agar tidak melukai pihak-pihak terkait.

Tentu kita harus yakin bahwa dunia tidak kekurangan orang pintar yang bisa memberikan solusi. Dunia hanya kekurangan orang yang cukup sabar untuk mendengarkan ceritanya aja dulu.

Dengan mendengarkan, kita tidak hanya mendapatkan informasi yang utuh, tetapi juga mendapatkan rasa hormat dari mereka yang kita bantu. Karena pada akhirnya, sebuah solusi tanpa pemahaman yang dalam hanyalah sebuah asumsi yang dipaksakan.

Jadi, Dengarkan Ceritanya Aja Dulu.

Categorized in:

Catatan,