Banyak sekali orang di antara kita tidak tahu bahwa dirinya punya kelemahan yaitu tidak mampu mengelola keinginan atau yang biasa disebut impulsivitas.
Yaitu sebuah kondisi dimana seseorang sulit mengendalikan dorongan atau keinginan untuk melakukan sesuatu, termasuk keinginan untuk memiliki barang, uang, atau hal-hal material lainnya.
Banyak hal yang memicu adanya impulsivitas tersebut, seringkali dipicu emosi sesaat, seperti keinginan untuk merasa bahagia, diakui, atau terhindar dari rasa tidak nyaman.
Suatu misal membeli barang mewah meskipun tidak mampu, mengambil keputusan finansial impulsif, seperti berhutang demi gaya hidup, atau terus-menerus mengejar keinginan tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
Setidaknya ada 5 dampak yang bisa disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola keinginan. Yaitu, pertama terkait dengan masalah finansial, pengeluaran berlebihan dapat menyebabkan hutang, kebangkrutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Kedua, orang bisa mengalami kondisi stres dan kecemasan. Ketidakmampuan memenuhi keinginan atau menanggung konsekuensi finansial dapat memicu stres dan kecemasan. Hal ini tentu berbahaya apabila tidak bisa dikendalikan dengan baik.
Kemudian yang ketiga, gangguan hubungan. Perilaku impulsif dapat merusak hubungan dengan orang lain, terutama jika melibatkan pengeluaran bersama atau ketidakjujuran. Tali pertemanan bisa saja menjadi renggang karena adanya hal itu.
Selanjutnya yang keempat adalah hilangnya fokus pada Tujuan Jangka Panjang. Keinginan sesaat dapat mengalihkan perhatian dari tujuan jangka panjang, bukan hanya terkait dengan investasi atau menabung untuk masa depan, namun prinsip hidup, atau hal yang berkaitan dengan janji.
Yang terakhir atau kelima, impulsif dapat membuat penurunan kualitas hidup. Kebiasaan menuruti keinginan sesaat dapat mengarah pada gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi berlebihan atau kecanduan belanja. Bukan hanya terkait gaya hidup konsumtif, namun juga keinginan lain yang merusak rasa kepercayaan dari orang lain.
Agar terhindar dari impulsivitas, kita perlu terus menerus meningkatkan kesadaran diri. Kenali pemicu keinginan impulsif, seperti emosi (stres, bosan, atau sedih) atau pengaruh lingkungan (iklan, media sosial).
Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya menginginkannya sesaat?”
Kita perlu belajar membedakan Kebutuhan dan Keinginan. Kebutuhan adalah hal-hal yang esensial untuk bertahan hidup (makanan, pakaian, tempat tinggal). Sementara Keinginan adalah hal-hal yang meningkatkan kenyamanan atau kebahagiaan, tetapi tidak selalu diperlukan.
Tentu saja, untuk bisa terhindar dari hal-hal semacam itu kita perlu Mengembangkan Kebiasaan Positif. Kita bisa mengalihkan energi ke aktivitas yang lebih produktif, seperti olahraga, hobi, atau belajar hal baru, bukan pertemanan baru yang nantinya menjerumuskan.
Praktikkan mindfulness atau meditasi untuk meningkatkan kontrol diri.
