Sebuah ide itu kadang tidak bisa langsung muncul serta merta ketika kita diminta untuk membuat sebuah karya. Memang bukan sepenuhnya karya itu semuanya dari kita yang membuat, bisa juga dengan meramu, meracik, mengkombinasi, atau juga mengkostumisasi.

Seperti halnya dalam membuat sebuah website. Kita tidak serta merta bisa asal-asalan dalam memilih tema, mengatur tata letak, membuat menu, serta mengisinya.

Membuat website kini memang semakin mudah. Banyak tutorial yang bertebaran di internet, bahkan sekali klik juga sudah banyak yang bisa langsung jadi. Ibaratnya, sangat dimudahkan untuk membuatnya.

Feel

Namun, bukan soal mudah atau ketersediaan tools yang ada di internet, tapi website juga soal “feel.” Membuat website menjadi satu pekerjaan yang perlu diperhitungkan bagaimana rancangannya desainnya, fiturnya, serta kebermanfaatannya.

Misalnya saja beberapa hari lalu ada yang meminta bantuan untuk membuatkan website sebuah yayasan. Yayasan itu bergerak dalam bidang pendidikan, cakupannya nasional, bahkan internasional. Tidak ada bahan apapun selain sebuah logo yang terbilang bukan file asli.

Jadi, kita harus merancangkan terlebih dahulu, seperti apa kira-kira website ini akan kita wujudkan. Dari tone warna, tema, font, serta apa saja yang harus ada untuk mengakomodir sebuah yayasan.

Tematik

Atau beberapa hari kemudian ada yang meminta untuk dibantu pembuatan website organisasi dengan format portal berita. Saya mungkin sudah banyak menggunakan berbagai template khusus berita, namun untuk bisa menyesuaikan keinginan atau mencerminkan organisasi itu, harus bisa fleksibel juga.

Alhamdulillah, kemudahan bisa didapatkan. Namun, kadang dalam memilih tone warna, tema, atau kombinasi yang unik atau spesifik itu bisa memakan waktu lebih. Bahkan dalam sebuah pengalaman membuat website, saya bisa sampai satu bulan gonta ganti tema.

Categorized in:

Cerita,